Tentang
Ghana
Republik
Ghana adalah sebuah negara di Afrika Barat yang berbatasan dengan Pantai Gading
di sebelah barat, Burkina Faso di utara, Togo di timur, dan Teluk Nugini di selatan.
Luas wilayahnya hampir dua kali luas pulau Jawa. Ghana merupakan salah satu negara
penghasil cokelat
terbesar di dunia di samping penghasil alumunium
terbesar di Afrika. Dahulu bernama Pesisir Emas, nama "Ghana" berasal dari Kekaisaran
Ghana (walaupun wilayahnya tidak seluas Ghana saat ini).
Sebelum zaman
penjajahan, Ghana diduduki
oleh beberapa kekaisaran kuno, termasuk kekaisaran pedalaman di Ashanti
dan pelbagai negara Fante di sepanjang pantai.
Perdagangan dengan negara-negara Eropa berkembang maju setelah hubungan dengan
pihak Portugis
pada abad ke-15
Ghana
merupakan negara kulit hitam Afrika pertama yang mencapai kemerdekaan dari pemerintahan
penjajah. Negara ini mencapai kemerdekaan dari Britania Raya pada tahun 1957.
Pada tahun 2005, jumlah penduduknya
mencapai 21.029.853.
Pemerintahan dan politik
Menurut
Indeks Negara Gagal 2009, Ghana
ditempatkan pada urutan ke-53 sebagai negara gagal di dunia dan yang ke-2 di Afrika setelah Mauritius.
Ghana
menduduki peringkat ke-124 dari 177 negara dalam indeks tersebut.[3] Ghana juga
menduduki urutan ke-7 dari 48 negara Afrika sub-Sahara dalam Indeks
Pemerintahan Baik Ibrahim 2008 yang didasarkan pada data tahun 2006. Indeks Ibrahim
adalah ukuran komprehensif atas pemerintahan Afrika, didasarkan pada sejumlah
variabel yang berbeda yang mencerminkan keberhasilan yang digunakan pemerintah
untuk menyampaikan kebajikan politik kepada warganegaranya.[4]
Pemerintahan:
Ghana
dibentuk sebagai negara demokrasi parlementer pada saat merdeka pada tahun
1957, diikuti oleh pemerintahan militer dan sipil yang silih berganti. Pada
bulan Januari
1993, pemerintahan militer
memberikan jalan kepada Republik Keempat setelah pemilu presiden dan parlemen
pada akhir tahun 1992. Konstitusi tahun 1992 membagi kekuasaan di antara presiden,
parlemen,
kabinet,
dewan negara dan mahkamah
peradilan independen. Pemerintah dipilih dengan hak pilih universal; namun, badan legislatif
sangat malaportif, karena distrik-distrik yang berpenduduk sedikit menerima
lebih banyak perwakilan per orang daripada di distrik yang berpenduduk banyak.[5]
Pembagian
administratif:
Terdapat 10
kawasan administratif yang terbagi menjadi 138 distrik, masing-masing memiliki
perwakilan distrik. Di bawah distrik terdapat berbagai jenis dewan, termasuk 58
dewan kota atau wilayah, 108 dewan zona, dan 626 dewan wilayah. 16.000 komite
unit di tingkat terendah.[5]
Sistem
peradilan:
Hukum di
Ghana didasarkan pada hukum umum Britania Raya, hukum adat (tradisional), dan
konstitusi tahun 1992. Hirarki pengadilan terdiri atas Mahkamah Agung (lembaga
peradilan tertinggi), Mahkamah Banding, dan Mahkamah Kehakiman Tinggi. Di bawah
badan-badan tersebut terdapat mahkamah keliling, magistrat, dan tradisional.
Lembaga luar pengadilan termasuk pengadilan publik. Sejak kemerdekaan,
peradilan relatif independen, hal itu terus berlanjut hingga Republik Keempat.
Peradilan yang lebih rendah ditegaskan dan disusun kembali pada masa Republik
Keempat.
Politik:
Partai
politik dilegalkan pada pertengahan tahun 1992 setelah kekosongan 10 tahun.
Banyak partai politik pada masa Republik Keempat; namun yang terbesar adalah Kongres Demokrasi Nasional
yang memenangkan pemilu presiden dan parlemen pada tahun 1992, 1996 dan 2008; Partai Patriotik Baru
adalah partai oposisi utama yang memenangkan pemilu tahun 2000 dan 2004;
Konvensi Nasional Rakyat, dan Partai Rakyat Konvensi
adalah penerus partai Nkrumah yang bernama sama.[5]
Hubungan
luar negeri:
Sejak
kemerdekaan, Ghana
secara sungguh-sungguh menganut paham non-blok dan Pan-Afrikanisme,
yang diperkenalkan secara dekat oleh presiden pertama, Osagyefo Dr. Kwame
Nkrumah.
Banyak
diplomat dan politikus Ghana
yang memegang jabatan penting dalam organisasi internasional. Contohnya adalah
diplomat dan mantan SekJend. PBB, Kofi Annan,
hakim Pengadilan Kriminal Internasional Akua Kuenyehia, dan mantan
presiden Jerry Rawlings, yang diangkat sebagai ketua Masyarakat
Ekonomi Negara Afrika Barat.[5]
Sejarah
Sebelum tahun
500, kebanyakan kawasan
tengah Afrika sub-Sahara menyaksikan peluasan pertanian. Pertanian bermula di
kawasan paling di selatan Gurun Sahara, lalu terbangunlah perkampungan.
Menjelang akhir zaman klasik, kerajaan serantau yang lebih besar didirikan di
Afrika Barat, salah satunya ialah Kekaisaran
Ghana yang terletak di utara negara Ghana zaman sekarang. Setelah
tumbang pada awal abad ke-13, suku Akan pindah ke
selatan lalu mendirikan beberapa negeri termasuk kekaisaran Akan agung pertama
bernama Bono yang kini dikenal
sebagai Brong Ahafo di Ghana.
Negeri-negeri Akan yang menyusul seperti persekutuan Ashanti
dan negeri-negeri Fante dipercaya muncul
dari wilayah asli Bono di Bono Manso. Kebanyakan kawasannya disatukan di bawah Kekaisaran Ashanti hingga abad ke-16.
Kerajaan Ashanti
bermula sebagai satu rangkaian yang longgar lalu berangsur-angsur menajdi
kerajaan terpusat dengan birokrasi yang maju berpusat di Kumasi.
Peta Ghana
Secara
geografis, Ghana kuno
terletak kira-kira 500 mil dari utara Ghana
kini, dan menduduki kawasan antara Sungai Senegal dan Nigeria. Sebagian penduduk
Ghana modern adalah keturunan
dari nenek moyang yang berhubungan dengan Ghana zaman pertengahan. Hal
tersebut dapat dilacak hingga bangsa Mande dan Volta di Ghana
Utara—Mamprussi, Dagomba dan Gonja. Bukti anekdot
mengaitkan suku Akan dengan
kekaisaran ini. Bukti tersebut terletak pada nama-nama seperti Danso yang
dikuasai suku Akan di Ghana zaman sekarang dan Mandinka
di Senegal/Gambia yang
kuat pertaliannya dengan kekaisaran ini. Ghana
juga merupakan situs Kekaisaran Ashanti yang
mungkin sekali negeri kulit hitam yang paling maju dalam sejarah Afrika
sub-Sahara. Konon pada masa keemasannya, Raja Ashanti
mampu mengerahkan 500.000 prajurit.
Kubu Inggris dan Belanda yang bertetangga di Sekondi
Pada tahun 1481, Raja João II dari Portugal menugaskan Diogo d'Azambuja untuk
membangun Kastil Elmina yang lengkap
pada tahun berikutnya. Tujuan mereka adalah untuk berdagang emas, gading dan budak, lalu menyatukan
kekuasaan mereka yang berkembang di rantau ini. Mereka juga disertai Belanda
pada tahun 1598,
di mana Belanda mendirikan kubu di Komenda dan Kormantsi. Pada tahun 1637 Belanda merebut
Kastil Elmina dari Portugis dan Axim pada tahun 1642 (Kubu St. Anthony).
Menjelang pertengahan abad ke-17, pedagang Eropa lain seperti Inggris, Denmark
dan Swedia juga turut bergabung. Di sepanjang garis pantai Ghana didirikan 30 buah kubu dan kastil oleh
saudagar Belanda, Britania dan Denmark.
Pesisir Emas menjadi tumpuan terbesar arsitektur militer Eropa di luar Eropa.
Menjelang akhir abad ke-19, hanya Belanda dan Britania
yang masih menetap di situ dan setelah Belanda mundur pada tahun 1874, dan Britania
menjadikan Pantai Emas sebagai protektorat.
Negara-negara
kuno Afrika sebelumnya menjalin pelbagai persekutuan dengan penjajah dan dengan
satu sama lain, lalu tercetusnya Perang Ashanti-Fante pada
tahun 1806,
dan juga perjuangan Kekaisaran Ashanti
menentang British. Gerakan menuju berakhirnya penjajahan bermula pada tahun 1946, dan konstitusi
pertama kawasan itu disahkan pada tahun 1951.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar