Rabu, 19 September 2012

Tentang Negara Ghana


Tentang Ghana

Republik Ghana adalah sebuah negara di Afrika Barat yang berbatasan dengan Pantai Gading di sebelah barat, Burkina Faso di utara, Togo di timur, dan Teluk Nugini di selatan. Luas wilayahnya hampir dua kali luas pulau Jawa. Ghana merupakan salah satu negara penghasil cokelat terbesar di dunia di samping penghasil alumunium terbesar di Afrika. Dahulu bernama Pesisir Emas, nama "Ghana" berasal dari Kekaisaran Ghana (walaupun wilayahnya tidak seluas Ghana saat ini).
Sebelum zaman penjajahan, Ghana diduduki oleh beberapa kekaisaran kuno, termasuk kekaisaran pedalaman di Ashanti dan pelbagai negara Fante di sepanjang pantai. Perdagangan dengan negara-negara Eropa berkembang maju setelah hubungan dengan pihak Portugis pada abad ke-15
Ghana merupakan negara kulit hitam Afrika pertama yang mencapai kemerdekaan dari pemerintahan penjajah. Negara ini mencapai kemerdekaan dari Britania Raya pada tahun 1957.
Pada tahun 2005, jumlah penduduknya mencapai 21.029.853.
 
Pemerintahan dan politik
Menurut Indeks Negara Gagal 2009, Ghana ditempatkan pada urutan ke-53 sebagai negara gagal di dunia dan yang ke-2 di Afrika setelah Mauritius. Ghana menduduki peringkat ke-124 dari 177 negara dalam indeks tersebut.[3] Ghana juga menduduki urutan ke-7 dari 48 negara Afrika sub-Sahara dalam Indeks Pemerintahan Baik Ibrahim 2008 yang didasarkan pada data tahun 2006. Indeks Ibrahim adalah ukuran komprehensif atas pemerintahan Afrika, didasarkan pada sejumlah variabel yang berbeda yang mencerminkan keberhasilan yang digunakan pemerintah untuk menyampaikan kebajikan politik kepada warganegaranya.[4]


Pemerintahan:
Ghana dibentuk sebagai negara demokrasi parlementer pada saat merdeka pada tahun 1957, diikuti oleh pemerintahan militer dan sipil yang silih berganti. Pada bulan Januari 1993, pemerintahan militer memberikan jalan kepada Republik Keempat setelah pemilu presiden dan parlemen pada akhir tahun 1992. Konstitusi tahun 1992 membagi kekuasaan di antara presiden, parlemen, kabinet, dewan negara dan mahkamah peradilan independen. Pemerintah dipilih dengan hak pilih universal; namun, badan legislatif sangat malaportif, karena distrik-distrik yang berpenduduk sedikit menerima lebih banyak perwakilan per orang daripada di distrik yang berpenduduk banyak.[5]
Pembagian administratif:
Terdapat 10 kawasan administratif yang terbagi menjadi 138 distrik, masing-masing memiliki perwakilan distrik. Di bawah distrik terdapat berbagai jenis dewan, termasuk 58 dewan kota atau wilayah, 108 dewan zona, dan 626 dewan wilayah. 16.000 komite unit di tingkat terendah.[5]
Sistem peradilan:
Hukum di Ghana didasarkan pada hukum umum Britania Raya, hukum adat (tradisional), dan konstitusi tahun 1992. Hirarki pengadilan terdiri atas Mahkamah Agung (lembaga peradilan tertinggi), Mahkamah Banding, dan Mahkamah Kehakiman Tinggi. Di bawah badan-badan tersebut terdapat mahkamah keliling, magistrat, dan tradisional. Lembaga luar pengadilan termasuk pengadilan publik. Sejak kemerdekaan, peradilan relatif independen, hal itu terus berlanjut hingga Republik Keempat. Peradilan yang lebih rendah ditegaskan dan disusun kembali pada masa Republik Keempat.





Politik:
Partai politik dilegalkan pada pertengahan tahun 1992 setelah kekosongan 10 tahun. Banyak partai politik pada masa Republik Keempat; namun yang terbesar adalah Kongres Demokrasi Nasional yang memenangkan pemilu presiden dan parlemen pada tahun 1992, 1996 dan 2008; Partai Patriotik Baru adalah partai oposisi utama yang memenangkan pemilu tahun 2000 dan 2004; Konvensi Nasional Rakyat, dan Partai Rakyat Konvensi adalah penerus partai Nkrumah yang bernama sama.[5]
Hubungan luar negeri:
Sejak kemerdekaan, Ghana secara sungguh-sungguh menganut paham non-blok dan Pan-Afrikanisme, yang diperkenalkan secara dekat oleh presiden pertama, Osagyefo Dr. Kwame Nkrumah.
Banyak diplomat dan politikus Ghana yang memegang jabatan penting dalam organisasi internasional. Contohnya adalah diplomat dan mantan SekJend. PBB, Kofi Annan, hakim Pengadilan Kriminal Internasional Akua Kuenyehia, dan mantan presiden Jerry Rawlings, yang diangkat sebagai ketua Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Barat.[5]
 
Sejarah
Sebelum tahun 500, kebanyakan kawasan tengah Afrika sub-Sahara menyaksikan peluasan pertanian. Pertanian bermula di kawasan paling di selatan Gurun Sahara, lalu terbangunlah perkampungan. Menjelang akhir zaman klasik, kerajaan serantau yang lebih besar didirikan di Afrika Barat, salah satunya ialah Kekaisaran Ghana yang terletak di utara negara Ghana zaman sekarang. Setelah tumbang pada awal abad ke-13, suku Akan pindah ke selatan lalu mendirikan beberapa negeri termasuk kekaisaran Akan agung pertama bernama Bono yang kini dikenal sebagai Brong Ahafo di Ghana. Negeri-negeri Akan yang menyusul seperti persekutuan Ashanti dan negeri-negeri Fante dipercaya muncul dari wilayah asli Bono di Bono Manso. Kebanyakan kawasannya disatukan di bawah Kekaisaran Ashanti hingga abad ke-16. Kerajaan Ashanti bermula sebagai satu rangkaian yang longgar lalu berangsur-angsur menajdi kerajaan terpusat dengan birokrasi yang maju berpusat di Kumasi.

Peta Ghana
Secara geografis, Ghana kuno terletak kira-kira 500 mil dari utara Ghana kini, dan menduduki kawasan antara Sungai Senegal dan Nigeria. Sebagian penduduk Ghana modern adalah keturunan dari nenek moyang yang berhubungan dengan Ghana zaman pertengahan. Hal tersebut dapat dilacak hingga bangsa Mande dan Volta di Ghana Utara—Mamprussi, Dagomba dan Gonja. Bukti anekdot mengaitkan suku Akan dengan kekaisaran ini. Bukti tersebut terletak pada nama-nama seperti Danso yang dikuasai suku Akan di Ghana zaman sekarang dan Mandinka di Senegal/Gambia yang kuat pertaliannya dengan kekaisaran ini. Ghana juga merupakan situs Kekaisaran Ashanti yang mungkin sekali negeri kulit hitam yang paling maju dalam sejarah Afrika sub-Sahara. Konon pada masa keemasannya, Raja Ashanti mampu mengerahkan 500.000 prajurit.
Kubu Inggris dan Belanda yang bertetangga di Sekondi
Pada tahun 1481, Raja João II dari Portugal menugaskan Diogo d'Azambuja untuk membangun Kastil Elmina yang lengkap pada tahun berikutnya. Tujuan mereka adalah untuk berdagang emas, gading dan budak, lalu menyatukan kekuasaan mereka yang berkembang di rantau ini. Mereka juga disertai Belanda pada tahun 1598, di mana Belanda mendirikan kubu di Komenda dan Kormantsi. Pada tahun 1637 Belanda merebut Kastil Elmina dari Portugis dan Axim pada tahun 1642 (Kubu St. Anthony). Menjelang pertengahan abad ke-17, pedagang Eropa lain seperti Inggris, Denmark dan Swedia juga turut bergabung. Di sepanjang garis pantai Ghana didirikan 30 buah kubu dan kastil oleh saudagar Belanda, Britania dan Denmark. Pesisir Emas menjadi tumpuan terbesar arsitektur militer Eropa di luar Eropa. Menjelang akhir abad ke-19, hanya Belanda dan Britania yang masih menetap di situ dan setelah Belanda mundur pada tahun 1874, dan Britania menjadikan Pantai Emas sebagai protektorat.
Negara-negara kuno Afrika sebelumnya menjalin pelbagai persekutuan dengan penjajah dan dengan satu sama lain, lalu tercetusnya Perang Ashanti-Fante pada tahun 1806, dan juga perjuangan Kekaisaran Ashanti menentang British. Gerakan menuju berakhirnya penjajahan bermula pada tahun 1946, dan konstitusi pertama kawasan itu disahkan pada tahun 1951.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar