BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Yogyakarta
adalah tempat obyek wisata yang tidak asing lagi dimata orang ataupun di
berbagai manca Negara. Disitu banyak berbagai tempat-tempat obyek pariwisata
yang sangat penting, bersejarah dan mempunyai keunikan tersendiri dengan ciri
khasnya masing-masing
Tempat-tempat
obyek pariwisata tersebut misalnya : Candi Borobudur, Candi Prambanan, Monumen
Jogja Kembali (Monjali), Keraton Yogyakarta, Malioboro, Goa Jatijajar, Museum
Dirgantara, dan Museum Kereta.
1.2. Latar Belakang
Hal-hal
yang melatar belakangi pembuatan makalah ini adalah :
1. Tugas dari guru yang bersangkutan.
2. Penulis ingin memperluas pengetahuan tentang
Yogyakarta.
3. Penulis ingin mengetahui keindahan tempat
pariwisata Yogyakarta secara langsung.
4. Penulis ingin mengetahui letak-letak tempat
pariwisata Yogyakarta.
1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan
dan manfaat penulis membuat makalah tentang Yogyakarta adalah :
1. Penulis dapat menjelaskan dan menguraikan
dari keindahan dan keunikan obyek wisata tersebut.
2. Penulis dapat menjelaskan tentang pengaruh dan
manfaat dari obyek wisata tersebut dengan dunia pendidikan.
3. Penulis dapat menjelaskan tentang apa yang
sebenarnya tersimpat dalam obyek wisata tersebut.
4. Menambah wawasan atau pengetahuan yang
luas khususnya bagi penulis sendiri dan umum bagi para pembaca yang budiman.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Candi Borobudur
Gambaran Umum
Borobudur
adalah nama sebuah candi budha yang
terletak di Borobudur Jawa Tengah,. Lokasi candi adalah
kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta
Candi ini didirikan oleh para penganut Agama budha Mahayana
sekitar tahun 800-an Masehi pada
masa pemerintahan wangsa Syailendra.
Sejarah
Candi Borobudur
Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi atau abad ke-9. Candi
Borobudur dibangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Candi ini dibangun pada masa kejayaan dinasti
Syailendra. Pendiri Candi Borobudur yaitu Raja Samaratungga yang berasal dari
wangsa atau dinasti Syailendra. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar tahun
824 M dan selesai sekitar menjelang tahun 900-an Masehi pada masa pemerintahan
Ratu Pramudawardhani yang adalah putri dari Samaratungga. Sedangkan arsitek
yang berjasa membangun candi ini menurut kisah turun-temurun bernama Gunadharma.
Candi
ini selama berabad-abad tidak lagi digunakan. Kemudian karena letusan gunung
berapi, sebagian besar bangunan Candi Borobudur tertutup tanah vulkanik. Selain
itu, bangunan juga tertutup berbagai pepohonan dan semak belukar selama
berabad-abad. Kemudian bangunan candi ini mulai terlupakan pada zaman Islam
masuk ke Indonesia sekitar abad ke-15.
Pada tahun 1814 saat Inggris
menduduki Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan
benda purbakala berukuran raksasa di desa Bumisegoro daerah Magelang. Karena
minatnya yang besar terhadap sejarah Jawa, maka Raffles segera memerintahkan
H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan
yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
Cornelius dibantu oleh sekitar 200
pria menebang pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi bangunan
raksasa tersebut. Karena mempertimbangkan bangunan yang sudah rapuh dan bisa
runtuh, maka Cornelius melaporkan kepada Raffles penemuan tersebut termasuk
beberapa gambar. Karena penemuan itu, Raffles mendapat penghargaan sebagai
orang yang memulai pemugaran Candi Borobudur dan mendapat perhatian dunia. Pada
tahun 1835, seluruh area candi sudah berhasil digali. Candi ini terus dipugar
pada masa penjajahan Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, pada
tahun 1956, pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk meneliti kerusakan
Borobudur. Lalu pada tahun 1963, keluar keputusan resmi pemerintah Indonesia
untuk melakukan pemugaran Candi Borobudur dengan bantuan dari UNESCO. Namun
pemugaran ini baru benar-benar mulai dilakukan pada tanggal 10 Agustus 1973.
Proses pemugaran baru selesai pada tahun 1984. Sejak tahun 1991, Candi
Borobudur ditetapkan sebagai World Heritage Site atau Warisan Dunia oleh UNESCO.
Struktur
Borobudur
Candi
Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri 10 tingkat, berukuran
123 x 123 meter, tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah
direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan.10 tingkat itu
terdiri dari;enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat
berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa
utama sebagai puncaknya, yang menghadap kea rah barat. Selain itu tersebar di
semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa. Jumlah stupa di kompleksnya tersebut
594.
Borobudur
yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana.
Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva
yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan
menjadi Buddha.
·
Kamadhatu,
bagian dasar Borobudur, melambangkan manusia
yang masih terikat nafsu.
·
Rupadhatu,
empat tingkat di atasnya, melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan
diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut,
patung Budha diletakkan terbuka.
·
Arupadhatu,
tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang
berlubang-lubang. Melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa,
dan bentuk.
·
Arupa,
bagian paling atas yang melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam
Di
masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua
patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan
kepada Raja Thailand, Chulalongkorn
yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada
tahun 1896
sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.
Borobudur
tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah
lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi
dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat
Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah
kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga
merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak,
yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
Struktur
Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock
yaitu seperti balok-balok Lego
yang bisa menempel tanpa lem.
Relief
Di
setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini
dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna
yang berasal dari bahasa Sansekerta
daksina yang artinya ialah timur.
Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief
cerita jātaka.
Pembacaan
cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang
sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di
sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah
tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa
candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
Adapun
susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah
sebagai berikut.
|
Bagan
Relief
|
|||
|
Tingkat
|
Posisi/
Letak
|
Cerita
Relief
|
Jumlah
pigura
|
|
Kaki
candi asli
|
-
----------
|
Karmawibhangga
|
160
pigura
|
|
Tingkat
I
|
-
dinding
|
Lalitawistara
|
120
pigura
|
|
-----------
|
-
---------
|
Jataka/
awadana
|
120
pigura
|
|
-----------
|
-
langkan
|
Jataka/
awadana
|
372
pigura
|
|
-----------
|
-
---------
|
Jataka/
awadana
|
128
pigura
|
|
Tingkat
II
|
-
dinding
|
Gandawyuha
|
128
pigura
|
|
-----------
|
-
langkan
|
Jataka/
awadana
|
100
pigura
|
|
Tingkat
III
|
-
dinding
|
Gandawyuha
|
88
pigura
|
|
-----------
|
-
Langkan
|
Gandawyuha
|
88
pigura
|
|
Tingkat
IV
|
-
dinding
|
Gandawyuha
|
84
pigura
|
|
-----------
|
-
langkan
|
Gandawyuha
|
72
pigura
|
|
-----------
|
jumlah
|
--------------
|
1460
pigura
|
Tahapan pembangunan Borobudur
·
Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak
diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M).
Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai
piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang
dibongkar.
·
Tahap kedua
Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah
dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa
induk besar.
·
Tahap ketiga
Undak atas lingkaran dengan stupa induk
besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa
dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.
· Tahap
keempat
Ada perubahan kecil seperti pembuatan
relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.
Ikhtisar waktu proses pemugaran
Candi Borobudur
·
1814
- Sir Thomas Stamford Raffles,
Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda
purbakala di desa Borobudur. Raffles
memerintahkan H.C. Cornelius
untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
·
1900
- pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan
candi Borobudur.
·
1926
- Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti
pada tahun 1940
akibat krisis malaise
dan Perang Dunia II.
·
1956
- pemerintah Indonesia
meminta bantuan UNESCO.
Prof. Dr. C. Coremans
datang ke Indonesia dari Belgia
untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
·
1963
- pemerintah Indonesia
mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
·
1968
- pada konferensi-15 di Perancis,
UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
·
1972
- International Consultative
Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan
Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta
dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat.
Sisanya ditanggung Indonesia.
·
10 Agustus 1973
- Presiden Soeharto
meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur;
pemugaran selesai pada tahun 1984
·
21 Januari 1985
- terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi Borobudur yang
kemudian segera diperbaiki kembali. Serangan dilakukan oleh kelompok Islam
ekstrem yang dipimpin Habib Husein Ali Alhabsyi.
2.2. Kraton
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta dikenal secara
umum oleh masyarakat sebagai bangunan istana salah satu kerajaan nusantara.
Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Yogyakarta sampai tahun 1950
ketika pemerintah Negara Bagian Republik Indonesia menjadikan Kesultanan
Yogyakarta (bersama-sama Kadipaten Paku Alaman) sebagai sebuah daerah
berotonomi khusus setingkat provinsi dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.
Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan
Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi
keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati.
Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja
Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain
menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan,
yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan
Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang
termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.
Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta
memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara),
Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan,
Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung
Selatan). Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik
yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain,
Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku
adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu
pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta
Tata Ruang
Koridor di Kedhaton dengan
latar belakang Gedhong Jene dan Gedhong Purworetno.ahulu bagian utama istana,
dari utara keselatan, dimulai dari Gapura Gladhag di utara sampai di Plengkung
Nirboyo di selatan. Bagian-bagian utama keraton Yogyakarta dari utara ke
selatan adalah: Gapura Gladag-Pangurakan; Kompleks Alun-alun Ler (Lapangan
Utara) dan Mesjid Gedhe (Masjid Raya Kerajaan); Kompleks Pagelaran, Kompleks
Siti Hinggil Ler, Kompleks Kamandhungan Ler; Kompleks Sri Manganti; Kompleks
Kedhaton; Kompleks Kamagangan; Kompleks Kamandhungan Kidul; Kompleks Siti
Hinggil Kidul (sekarang disebut Sasana Hinggil); serta Alun-alun Kidul
(Lapangan Selatan) dan Plengkung Nirbaya yang biasa disebut Plengkung Gadhing.
Bagian-bagian sebelah utara
Kedhaton dengan sebelah selatannya boleh dikatakan simetris. Sebagian besar
bagunan di utara Kompleks Kedhaton menghadap arah utara dan di sebelah selatan
Kompleks Kedhaton menghadap ke selatan. Di daerah Kedhaton sendiri bangunan
kebanyakan menghadap timur atau barat. Namun demikian ada bangunan yang
menghadap ke arah yang lain.
Selain bagian-bagian utama
yang berporos utara-selatan keraton juga memiliki bagian yang lain. Bagian
tersebut antara lain adalah Kompleks Pracimosono, Kompleks Roto Wijayan,
Kompleks Keraton Kilen, Kompleks Taman Sari, dan Kompleks Istana Putra Mahkota
(mula-mula Sawojajar kemudian di nDalem Mangkubumen). Di sekeliling Keraton dan
di dalamnya terdapat sistem pertahanan yang terdiri dari tembok/dinding Cepuri
dan Baluwerti. Di luar dinding tersebut ada beberapa bangunan yang terkait
dengan keraton antara lain Tugu Pal Putih, Gedhong Krapyak, nDalem Kepatihan
(Istana Perdana Menteri), dan Pasar Beringharjo.
Arsitektur Umum
Secara umum tiap kompleks utama terdiri
dari halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama
serta pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. Kompleks satu dengan yang
lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan Regol yang
biasanya bergaya Semar Tinandu. Daun pintu terbuat dari kayu jati yang
tebal. Di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding
penyekat yang disebut Renteng atau Baturono. Pada regol tertentu
penyekat ini terdapat ornamen yang khas.
Bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta lebih
terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional. Di beberapa bagian tertentu
terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Cina.
Bangunan di tiap kompleks biasanya berbentuk/berkonstruksi Joglo atau
derivasi/turunan konstruksinya. Joglo terbuka tanpa dinding disebut dengan Bangsal sedangkan joglo tertutup
dinding dinamakan Gedhong
(gedung). Selain itu ada bangunan yang berupa kanopi beratap bambu dan bertiang
bambu yang disebut Tratag. Pada
perkembangannya bangunan ini beratap seng dan bertiang besi.
Permukaan atap joglo berupa trapesium.
Bahannya terbuat dari sirap, genting tanah, maupun seng dan biasanya berwarna
merah atau kelabu. Atap tersebut ditopang oleh tiang utama yang di sebut dengan
Soko Guru yang berada di tengah bangunan, serta tiang-tiang lainnya.
Tiang-tiang bangunan biasanya berwarna hijau gelap atau hitam dengan ornamen
berwarna kuning, hijau muda, merah, dan emas maupun yang lain. Untuk bagian
bangunan lainnya yang terbuat dari kayu memiliki warna senada dengan warna pada
tiang. Pada bangunan tertentu (misal Manguntur Tangkil) memiliki ornamen Putri
Mirong, stilasi dari kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Lam Mim Ra,
di tengah tiangnya.
Untuk batu alas tiang, Ompak,
berwarna hitam dipadu dengan ornamen berwarna emas. Warna putih mendominasi
dinding bangunan maupun dinding pemisah kompleks. Lantai biasanya terbuat dari
batu pualam putih atau dari ubin bermotif. Lantai dibuat lebih tinggi dari
halaman berpasir. Pada bangunan tertentu memiliki lantai utama yang lebih
tinggi. Pada bangunan tertentu dilengkapi dengan batu persegi yang disebut Selo
Gilang tempat menempatkan singgasana Sultan.
Tiap-tiap bangunan memiliki kelas
tergantung pada fungsinya termasuk kedekatannya dengan jabatan penggunanya.
Kelas utama misalnya, bangunan yang dipergunakan oleh Sultan dalam kapasitas
jabatannya, memiliki detail ornamen yang lebih rumit dan indah dibandingkan
dengan kelas dibawahnya. Semakin rendah kelas bangunan maka ornamen semakin
sederhana bahkan tidak memiliki ornamen sama sekali. Selain ornamen, kelas
bangunan juga dapat dilihat dari bahan serta bentuk bagian atau keseluruhan
dari bangunan itu sendiri.
Kompleks Depan
Gladhag-Pangurakan
Gerbang utama untuk masuk ke dalam
kompleks Keraton Yogyakarta dari arah utara adalah Gapura Gladhag dan Gapura
Pangurakan yang terletak persis beberapa meter di sebelah selatannya. Kedua
gerbang ini tampak seperti pertahanan yang berlapis. Pada zamannya konon
Pangurakan merupakan tempat penyerahan suatu daftar jaga atau tempat pengusiran
dari kota bagi mereka yang mendapat hukuman pengasingan/pembuangan[16].
Versi lain mengatakan ada tiga gerbang
yaitu Gapura Gladhag, Gapura Pangurakan nJawi, dan Gapura Pangurakan Lebet.
Gapura Gladhag dahulu terdapat di ujung utara Jalan Trikora (Kantor Pos Besar
Yogyakarta dan Bank BNI 46) namun sekarang ini sudah tidak ada. Di sebelah
selatannya adalah Gapura Pangurakan nJawi yang sekarang masih berdiri dan
menjadi gerbang pertama jika masuk Keraton dari utara. Di selatan Gapura
Pangurakan nJawi terdapat Plataran/lapangan Pangurakan yang sekarang sudah
menjadi bagian dari Jalan Trikora. Batas sebelah selatannya adalah Gapura
Pangurakan Lebet yang juga masih berdiri. Selepas dari Gapura Pangurakan
terdapat Kompleks Alun-alun Ler.
Mesjid Gedhe Kasultanan
Kompleks Mesjid Gedhe Kasultanan (Masjid
Raya Kesultanan) atau Masjid Besar Yogyakarta terletak di sebelah barat
kompleks Alun-alun utara. Kompleks yang juga disebut dengan Mesjid Gedhe
Kauman dikelilingi oleh suatu dinding yang tinggi. Pintu utama kompleks
terdapat di sisi timur. Arsitektur bangunan induk berbentuk tajug persegi
tertutup dengan atap bertumpang tiga. Untuk masuk ke dalam terdapat pintu utama
di sisi timur dan utara. Di sisi dalam bagian barat terdapat mimbar bertingkat
tiga yang terbuat dari kayu, mihrab (tempat imam memimpin ibadah), dan
sebuah bangunan mirip sangkar yang disebut maksura. Pada zamannya (untuk
alasan keamanan) di tempat ini Sultan melakukan ibadah. Serambi masjid
berbentuk joglo persegi panjang terbuka. Lantai masjid induk dibuat lebih
tinggi dari serambi masjid dan lantai serambi sendiri lebih tinggi dibandingkan
dengan halaman masjid. Di sisi utara-timur-selatan serambi terdapat kolam
kecil. Pada zaman dahulu kolam ini untuk mencuci kaki orang yang hendak masuk
masjid.
Di depan masjid terdapat sebuah halaman
yang ditanami pohon tertentu. Di sebelah utara dan selatan halaman (timur laut
dan tenggara bangunan masjid raya) terdapat sebuah bangunan yang agak tinggi
yang dinamakan Pagongan.
Pagongan di timur laut masjid disebut dengan Pagongan Ler (Pagongan Utara) dan
yang berada di tenggara disebut dengan Pagongan Kidul (Pagongan Selatan). Saat
upacara Sekaten, Pagongan Ler digunakan untuk menempatkan gamelan sekati Kangjeng
Kyai (KK) Naga Wilaga dan Pagongan Kidul untuk gamelan sekati KK Guntur
Madu. Di barat daya Pagongan Kidul terdapat pintu untuk masuk kompleks
masjid raya yang digunakan dalam upacara Jejak Boto pada upacara Sekaten
di tahun Dal. Selain itu terdapat Pengulon, tempat tinggal resmi Kangjeng
Kyai Pengulu di sebelah utara masjid dan pemakaman tua di sebelah barat
masjid.
Warisan Budaya
Selain memiliki kemegahan bangunan Keraton
Yogyakarta juga memiliki suatu warisan budaya yang tak ternilai. Diantarannya
adalah upacara-upacara adat, tari-tarian sakral, musik, dan pusaka (heirloom).
Upacara adat yang terkenal adalah upacara Tumplak Wajik, Garebeg,
upacara Sekaten dan upacara Siraman Pusaka dan Labuhan. Upacara
yang berasal dari zaman kerajaan ini hingga sekarang terus dilaksanakan dan
merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilindungi dari klaim pihak
asing.
Tumplak Wajik
Upacara tumplak wajik adalah upacara
pembuatan Wajik (makanan khas yang terbuat dari beras ketan dengan gula kelapa)
untuk mengawali pembuatan pareden yang digunakan dalam upacara Garebeg. Upacara
ini hanya dilakukan untuk membuat pareden estri pada Garebeg Mulud dan Garebeg
Besar. Dalam upacara yang dihadiri oleh pembesar Keraton ini di lengkapi
dengan sesajian. Selain itu upacara yang diselenggarakan dua hari sebelum
garebeg juga diiringi dengan musik ansambel lesung-alu (alat penumbuk padi),
kenthongan, dan alat musik kayu lainnya. Setelah upacara selesai dilanjutkan
dengan pembuatan pareden.
Garebeg
Upacara Garebeg diselenggarakan tiga kali
dalam satu tahun kalender/penanggalan Jawa yaitu pada tanggal dua belas bulan
Mulud (bulan ke-3), tanggal satu bulan Sawal (bulan ke-10) dan tanggal sepuluh
bulan Besar (bulan ke-12). Pada hari-hari tersebut Sultan berkenan mengeluarkan
sedekahnya kepada rakyat sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas
kemakmuran kerajaan. Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad Dalem, berupa pareden/gunungan
yang terdiri dari Pareden Kakung, Pareden Estri, Pareden
Pawohan, Pareden Gepak, dan Pareden Dharat, serta Pareden
Kutug/Bromo yang hanya dikeluarkan 8 tahun sekali pada saat Garebeg Mulud
tahun Dal.
Gunungan kakung berbentuk seperti kerucut terpancung
dengan ujung sebelah atas agak membulat. Sebagian besar gunungan ini terdiri
dari sayuran kacang panjang yang berwarna hijau yang dirangkaikan dengan cabai
merah, telur itik, dan beberapa perlengkapan makanan kering lainnya. Gunungan estri berbentuk seperti
keranjang bunga yang penuh dengan rangkaian bunga. Sebagian besar disusun dari
makanan kering yang terbuat dari beras maupun beras ketan yang berbentuk
lingkaran dan runcing. Kedua gunungan ini ditempatkan dalam sebuah kotak pengangkut
yang disebut Jodhang.
Gunungan pawohan terdiri dari buah-buahan segar yang
diletakkan dalam keranjang dari daun kelapa muda (Janur) yang berwarna
kuning. Gunungan ini juga ditempatkan dalam jodhang dan ditutup dengan kain
biru. Gunungan gepak berbentuk
seperti gunungan estri hanya saja permukaan atasnya datar. Gunungan dharat juga berbentuk seperti
gunungan estri namun memiliki permukaan atas yang lebih tumpul. Kedua gunungan
terakhir tidak ditempatkan dalam jodhang melainkan hanya dialasi kayu yang
berbentuk lingkaran. Gunungan
kutug/bromo memiliki bentuk khas karena secara terus menerus
mengeluarkan asap (kutug) yang berasal dari kemenyan yang dibakar. Gunungan
yang satu ini tidak diperebutkan oleh masyarakat melainkan dibawa kembali ke
dalam keraton untuk di bagikan kepada kerabat kerajaan.
Pada Garebeg Sawal Sultan menyedekahkan 1-2 buah pareden kakung. Jika
dua buah maka yang sebuah diperebutkan di Mesjid Gedhe dan sebuah sisanya
diberikan kepada kerabat Puro Paku Alaman. Pada garebeg Besar Sultan mengeluarkan pareden kakung, estri, pawohan,
gepak, dan dharat yang masing-masing berjumlah satu buah. Pada garebeg Mulud/Sekaten Sultan memberi
sedekah pareden kakung, estri, pawohan, gepak, dan dharat yang masing-masing
berjumlah satu buah. Bila garebeg Mulud diselenggarakan pada tahun Dal, maka ditambah dengan satu
pareden kakung dan satu pareden kutug.
2.3. Museum Dirgantara
Museum ini terletak di ujung utara Kabupaten Bantul perbatasan dengan
Kabupaten Sleman tepatnya di komplek Pangkalan Udara TNI-AU Adisucipto
Yogyakarta. Museum ini banyak menampilkan sejarah kedirgantaraan bangsa
Indonesia serta sejarah perkembangan angkatan udara RI pada khususnya. Selain
terdapat diorama juga terdapat bermacam-macam jenis pesawat
yang dipergunakan pada masa perjuangan. Beberapa model dari pesawat tersebut
adalah milik tentara jepang yang digunakan oleh angkatan udara Indonesia.
Keberadaan Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala berdasarkan atas gagasan dari Pimpinan TNI AU untuk mengabadikan dan mendokumentasikan segala kegiatan dan peristiwa bersejarah di lingkungan TNI AU. Hal tersebut telah lama dituangkan dalam Keputusan Menteri/ Panglima Angkatan Udara No. 491, tanggal 6 Agustus 1960 tentang Dokumen dan Museum Angkatan Udara. Setelah mengalami proses yang lama, pada tanggal 21 April 1967, gagasan itu dapat diwujudkan dan organisasinya berada di bawah Pembinaan Asisten Direktorat Budaya dan Sejarah Menteri Panglima Angkatan Udara di Jakarta. Berdasarkan Instruksi Menteri/ Panglima Angkatan Udara Nomor 2 tahun 1967, tanggal 30 Juli 1967 tentang peningkatan kegiatan bidang sejarah, budaya, dan museum, maka Museum Angkatan Udara mulai berkembang dengan pesat. Berkat perhatian yang besar, baik dari Panglima Angkatan Udara maupun Panglima Komando Wilayah Udara V (Pang Kowilu V), pada tanggal 4 April 1969 Museum Pusat TNI AU yang berlokasi di Markas Komando Udara V, di Jalan Tanah Abang Bukit Jakarta, diresmikan oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Roesmin Noerjadin.
Berdasarkan berbagai pertimbangan bahwa kota Yogyakarta pada periode
1945-1949 mempunyai peranan penting dalam sejarah, yaitu tempat lahirnya TNI AU
dan pusat kegiatan TNI AU, serta merupakan kawah Candradimuka bagi Kadet
Penerbang/ Taruna Akademi Angkatan Udara. Berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI
AU Nomor Kep/11/IV/1978, museum yang semula berkedudukan di Jakarta, kemudian
dipindahkan ke Yogyakarta. Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf
TNI AU Nomor Skep/04/IV/1978 tanggal 17 April 1978, museum yang berlokasi di
Kampus Akabri Bagian Udara itu ditetapkan oleh Marsekal TNI Ashadi Tjahyadi
menjadi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, pada tanggal 29 Juli 1978 yang
bertepatan dengan peringatan Hari Bhakti TNI AU. Perkembangan selanjutnya,
museum itu tidak dapat menampung lagi koleksi alutsista yang ada karena
lokasinya yang sukar dijangkau oleh umum dan kendaraan. Oleh karena itu,
Pimpinan TNI AU memutuskan untuk memindahkannya ke gedung bekas pabrik gula di
Wonocatur Lanud Adisucipto. Sebelum pemindahan dilakukan gedung itu
direhabilitasi untuk dijadikan Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. Pada
tanggal 17 Desember 1982, Kepala Staf TNI AU Marsekal NIA shadi Tjahjadi
menandatangani prasasti sebagai bukti dimulainyar ehabilitasi gedung itu.
Penggunaan dan pembangunan kembali gedung bekas pabrik gula itu diperkuat
dengan Surat Perintah Kepala Staf TNI AU Nomor Sprin/05/IV/1984, tanggal 11
April 1984. Dalam rangka memperingati Hari Bhakti TNI AU, tanggal 29 Juli 1984,
Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Sukardi meresmikan gedung yang sudah
direhabilitasi itu sebagai gedung Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.
Lokasi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala itu berada di Pangkalan Udara
Adisucipto, di bawah Sub Dinas Sejarah, Dinas Perawatan Personel TNI AU,
Jakarta.
Bangunan, Gedung Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala yang ditempati
sekarang adalah bekas pabrik gula Wonocatur pada zaman Belanda, sedangkan pada
zaman Jepang digunakan untuk gudang senjata dan hanggar pesawat terbang. Koleksi, Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala memamerkan
benda-benda koleksi sejarah, antara lain : koleksi peninggalan para pahlawan
udara, diorama, pesawat miniatur, pesawat terbang dari negara-negara Blok Barat
dan Timur, senjata api, senjata tajam, mesin pesawat, radar, bom atau roket,
parasut dan patung-patung tokoh TNI Angkatan Udara.
2.4. Malioboro
Jalan Malioboro adalah nama jalan di Kota Yogyakarta yang membentang
dari Tugu Yogyakarta hingga
ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta yang terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi dan Jaln Jendral Ahmad Yani, Jalan ini
merupakan poros Garis Imaginer
Kraton Yogyakarta.
Terdapat
beberapa obyek bersejarah di jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar
Bringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret..
Keramaian dan
semaraknya Malioboro juga tidak terlepas dari banyaknya pedagang kaki lima yang
berjajar sepanjang jalan Malioboro menjajakan dagangannya, hampir semuanya yang
ditawarkan adalah barang/benda khas Jogja sebagai souvenir/oleh-oleh bagi para
wisatawan. Mereka berdagang kerajinan rakyat khas Jogjakarta, antara lain
kerajinan ayaman rotan, kulit, batik, perak, bambu dan lainnya, dalam bentuk
pakaian batik, tas kulit, sepatu kulit, hiasan rotan, wayang kulit, gantungan
kunci bambu, sendok/garpu perak, blangkon batik [semacan topi khas Jogja/Jawa],
kaos dengan berbagai model/tulisan dan masih banyak yang lainnya. Para pedagang
kaki lima ini ada yang menggelar dagangannya diatas meja, gerobak adapula yang
hanya menggelar plastik di lantai. Sehingga saat pengunjung Malioboro cukup
ramai saja antar pengunjung akan saling berdesakan karena sempitnya jalan bagi
para pejalan kaki karena cukup padat dan banyaknya pedagang di sisi kanan dan
kiri.
Ujung jalan Malioboro
yang satu terhubung dengan jalan Mangkubumi dan dibatasi oleh stasiun kereta
api Tugu dan ujung satunya lagi terhubung dengan jalan A.Yani. Dalam areal
kawasan Malioboro dan sekitarnya banyak lokasi lain yang dapat dikunjungi
misalnya Siti Inggil Keraton Jogjakarta, pasar Beringhardjo, benteng Vredeburg,
Gedong Senisono, Museum Sono Budoyo dan lainnya. Saat ini Malioboro bisa
dikatakan sebagai jantung keramaian kota Jogja, karena banyaknya pedagang dan
pengunjung yang berlalu lalang. Kawasan yang sangat ramai baik di dua sisi
jalan yang berkoridor maupun pada jalan kendaraan walau satu arah dari jalan
Mangkubumi akan tetapi berbagai jenis kendaraan melaju dan memenuhi di jalan
tersebut dan tidak heran kalau terjadi kemacetan. Dari kendaraan tradisional
seperti becak, dokar/andong/delman, sepeda, gerobak maupun kendaraan bermesin
seperti mobil, taxi, bis kota, angkutan umum, sepeda motor dan lainnya.
Kawasan Malioboro
sebagai salah satu kawasan wisata belanja andalan kota Jogja, ini didukung oleh
adanya pertokoan, rumah makan, pusat perbelanjaan, dan tak ketinggalan para
pedagang kaki limanya. Untuk pertokoan, pusat perbelanjaan dan rumah makan yang
ada sebenarnya sama seperti pusat bisnis dan belanja di kota-kota besar
lainnya, yang disemarakan dengan nama-merk besar dan ada juga nama-nama lokal.
Barang yang diperdagangkan dari barang import maupun lokal, dari kebutuhan
sehari-hari sampai dengan barang elektronika, mebel dan lain sebagainya. Juga
menyediakan aneka kerajinan, misal batik, wayang, ayaman, tas dan lain
sebagainya. Terdapat pula tempat penukaran mata uang asing, bank, hotel bintang
lima hingga tipe melati.
Namun jangan
ketinggalan untuk menelusuri jalan Malioboro yang sudah sangat terkenal
tersebut. Bisa dengan berjalan kaki dari ujung ke ujung pada dua sisi jalan,
atau dengan ‘dokar’ [delman/andong] dan becak khas Jogja. Di siang hari kawasan
Malioboro sangat ramai pengunjung baik warga maupun wisatawan, terlebih lagi
bila musim liburan sekolah tiba atau ada hari libur nasional yang cukup
panjang. Sebenarnya jalan Malioboro dari ujung ke ujung hanya berjarak lebih
dari satu kilometer saja, dan pada dua sisinya banyak sekali toko, kantor,
rumah makan dan mall serta pusat perbelanjaan, menariknya lagi banyak sekali
pedagang kaki lima yang berjajar dibawah koridor jalan yang memayungi dari
terik panas matahari maupun hujan. Keramian ini dimulai sejak pagi hingga
sembilan malam saat pusat perbelanjaan pada tutup, namun denyut kehidupan
kawasan Malioboro tidak pernah berhenti karena sudah siap warung-warung lesehan
menggelar dagangannya.
Untuk bermalam di
sekitar Malioboro juga mudah didapat penginapan dari tipe melati hingga hotel
bintang lima. Para wisatawan tidak akan kuatir untuk dapat menikmati pula
hari-hari liburannya di kota
Jogja hingga larut malam sekalipun. Mereka dapat menikmati hidangan-hidangan di
warung lesehan di sepanjang jalan Malioboro, makanan yang disediakan dan
ditawarkan dari jenis makanan khas Jogja yaitu nasi gudeg dan ayam goreng dan
juga makanan Padang, ChinesseFood dan lain sebagainya. Saat menikmati hidangan
yang disajikan akan dihibur oleh musik dari pedagang dan pengamen jalanan yang
cukup banyak dari yang hanya sekedar bawa gitar adapula yang membawa peralatan
musik lengkap.
Ada sebuah perhatian
khusus bagi wisatawan yang hendak menikmati warung lesehan yaitu menanyakan
dulu harga makanan yang hendak dipesan sebelum ada sebuah tagihan yang kurang
berkenan dihati, sampai-sampai hal ini menjadi perhatian khusus dari pemerintah
daerah yaitu dengan menggantung papan di kawasan Malioboro dengan tulisan
“Mintalah daftar harga sebelum anda memesan”. Carilah warung makan yang dianggap
wajar dalam memberi harga dari sebuah hidangan makan dan minuman yang
disajikan, memang perbuatan menaikan tarif yang tidak wajar ini sangat
menurunkan citra warung lesehan yang ada di kawasan Malioboro. Sangat
disayangkan kalau para wisatawan berkunjung ke Jogjakarta dan sekitarnya serta
khususnya kawasan Malioboro ini hanya satu hari berkunjung. Inilah menyebabkan
banyak wisatawan domestik maupun asing menghabiskan semua waktu liburnya yang
cukup panjang hanya untuk kunjungan wisata ke Jogja dan sekitarnya.
2.5.
Taman pintar
|
Sejarah
|
Sejak terjadinya ledakan perkembangan sains sekitar tahun 90-an,
terutama Teknologi Informasi, pada gilirannya telah menghantarkan peradaban
manusia menuju era tanpa batas. Perkembangan sains ini adalah sesuatu yang
patut disyukuri dan tentunya menjanjikan kemudahan-kemudahan bagi perbaikan
kualitas hidup manusia.
Menghadapi realitas perkembangan dunia semacam itu, dan wujud
kepedulian terhadap pendidikan, maka Pemerintah Kota Yogyakarta menggagas
sebuah ide untuk Pembangunan "Taman Pintar".
Disebut "Taman Pintar", karena di kawasan ini nantinya
para siswa, mulai pra sekolah sampai sekolah menengah bisa dengan leluasa
memperdalam pemahaman soal materi-materi pelajaran yang telah diterima di
sekolah dan sekaligus berekreasi.
Dengan Target Pembangunan Taman Pintar adalah memperkenalkan
science kepada siswa mulai dari dini, harapan lebih luas kreatifitas anak didik
terus diasah, sehingga bangsa Indonesia tidak hanya menjadi sasaran eksploitasi
pasar teknologi belaka, tetapi juga berusaha untuk dapat menciptakan teknologi
sendiri.
Bangunan Taman Pintar ini dibangun di
eks kawasan Shopping Center, dengan pertimbangan tetap adanya keterkaitan yang
erat antara Taman Pintar dengan fungsi dan kegiatan bangunan yang ada di
sekitarnya, seperti Taman Budaya, Benteng Vredeburg, Societiet Militer dan
Gedung Agung.
Relokasi area
mulai dilakukan pada tahun 2004, dilanjutkan dengan tahapan pembangunan Tahap I
adalah Playground dan Gedung PAUD Barat serta PAUD Timur, yang diresmikan
dalam Soft Opening I tanggal 20 Mei 2006 oleh Mendiknas, Bambang
Soedibyo.
Pembangunan Tahap II adalah Gedung Oval lantai I dan II serta
Gedung Kotak lantai I, yang diresmikan dalam Soft Opening II tanggal 9 Juni
2007 oleh Mendiknas, Bambang Soedibyo dan Menristek, Kusmayanto Kadiman, serta
dihadiri oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Pembangunan
Tahap III adalah Gedung Kotak lantai II dan III, Tapak Presiden dan Gedung
Memorabilia.
Dengan selesainya tahapan pembangunan, Grand Opening Taman Pintar
dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2008 yang diresmikan oleh Presiden RI,
Susilo Bambang Yudhoyono.
Zona playground (outbond)
Begitu memasuki pintu gerbang utama, Pengunjung langsung disambut
oleh zona Playground atau playground Arena. Jalan masuk dari pintu
gerbang terpecah menjadi 2 oleh sebuah koridor yang terdiri atas 3 tiang
berbentuk segitiga.
Dan Di ujung koridor ada sebuah gong bertuliskan "Gong perdamaian
Nusantara (sarana persaudaraan dan pemersatu bangsa)". Di sekeliling gong
tersebut terdapat logo dari semua propinsi dan kabupaten yang ada di
seluruh Indonesia.
Di zona ini, para pengunjung anak-anak banyak yang bermain dan
mandi di sebuah kolam yang ada air mancurnya, ada juga Permainan cakram
warna /Cakram Spektrum Warna, dinding berdendang, Parabola Berbisik,
desaku Permai, Sistem Katrol, Rumah pohon, Jembatan Goyang, Jungkat-jungkit,
dan bermain Pasir .
Dan Khusus di area Cakram Warna, anak-anak dapat belajar tentang
munculnya warna maupun proses terjadinya pelangi. Semua wahana bermain yang ada
di Zona ini, semuanya gratis.tis
GEDUNG PAUD
Bagi pengunjung yang punya balita atau anak usia dini, di TAMAN PINTAR ada tempat bermain
khusus bagi anak Usia dini. Tempat ini memang di desain khusus bagi anak
usia dini. Dan banyak dari pengunjung , Khususnya ibu-ibu yang memanfaatkan
tempat ini untuk memberi hiburan sekaligus memberi makan atau menyuapi
putra putri mereka.
Gedung memorabilia
Gedung Memorabilia terdapat di sebelah barat Area Taman Pintar. Di tempat
ini para pengunjung dapat melihat miniatur bangunan keraton Yogyakarta
secara detail dan menyeluruh, ada pula foto raja-raja dari Keraton Yogyakarta,
mulai dari Hamengkubuwono I sampai dengan raja yang sekarang bertahta, Yaitu
Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Selain foto para raja, di tempat ini
pula terdapat foto tokoh-tokoh Pendidikan di Indonesia, dan juga foto-foto
Presiden yang pernah memimpin NKRI, mulai dari Sukarno sampai dengan
presiden SBY. Selain itu di tempat ini juga terdapat alat peraga yang
berhubungan dengan sejarah kemerdekaan RI. Dan hal-hal yang berhubungan dengan Yogya bisa kita jumpai di tempat
ini.
Gedung oval dan kotak
Perlu diketahui oleh para pembaca, bahwa semua yang ada di gedung
Memorabilia di atas sebenarnya hanya pengantar atau istilahnya pemanasan saja
dari seluruh Zona yang ada Taman Pintar. Memasuki Zona ini, Para
pengunjung langsung melewati lorong bawah air, mirip Sea World (tapi mini).
Setelah itu para pengunjung dapat menyaksikan berbagai macam ilmu
pengetahuan dan tekhnologi walau di sajikan dengan saangat sederhana. Dan
kita diperbolehkan mencoba semua wahana dan bila perlu kita bisa meminta
bantuan kepada petugas yang selalu ramah menyapa pengunjung.
Disini kita akan dipaksa berfikir dan mengingat-ingat (secara
sukarela) pelajaran dari SD maupun SMP/SMU yang pernah kita dapatkan. Apa itu
Gaya Pegas, Gaya listrik, Gaya Magnet, Simbosis,
Fotosintesis, kenapa terjadi Gerhana, dan masih banyak
lagi ilmu pengetahuan alam lainnya. Tak ketinggalan pula tekhnologi terbaru
yaitu seputar komputer dan Internet.
Di semua sisi dinding , terdapat foto-foto para ahli Astronomi , fenomena
alam, benda langit, dan bagian atas terdapat alat peraga sistem tata surya yang
berisi Matahari beserta planet-planetnya.
Hal yang tidak kalah menarik yaitu adanya wahana simulasi gempa,
Pengunjung bisa merasakan Gempa bumi sesaat, dan hal apa yang harus dilakukan
untuk meminimalkan korban. Dan tepat di sebelahnya terdapat alarm peringatan
dini terhadap Tsunami dimana kita dapat melihat proses terjadinya tsunami dan
proses mengapa alarm tsunami biasa berbunyi jika terjadi Tsunami.
Sekarang kita menuju pintu keluar, Dan sebelum pengunjung benar-benar
keluar dari Gedung ini, Ada lagi satu tempat yang sayang untuk di
lewatkan , Yaitu Bioskop 3 dimensi. Dini pengunjung dapat menikmati tayangan
film 3 dimensi dengan durasi 15 menit.
Di pintu keluar, kita disambut dengan deretan toko buku yang sudah sangat
tekenal di jogja, biasa di sebut shoping center, disini ditawarkan
berbagai macam buku dari berbagai disiplin ilmu.
2.6. Museum jendral soedirman
"Anak-anakku,
Tentara Indonesia, kamu bukanlah serdadu sewaan, tetapi prajurit yang
berideologi, yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran tanah
airmu. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan di
atas timbunan runtuhan ribuan jiwa harta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak
akan dapat dilenyapkan oleh manusia, siapapun juga" (Panglima Besar
Jenderal Sudirman).
Desa
Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Karisidenan Banyumas
menjadi saksi lahirnya seorang bocah kecil pada hari senin pon tanggal 24
Januari 1916. Tangisnya merupakan tanda awal lahirnya salah satu tokoh besar
dalam revolusi Bangsa Indonesia. Ayahnya Karsid Kartawiraji dan Siyem, ibu yang
melahirkan sang bocah memberikannya nama Sudirman. Sedangkan ayah angkatnya
Raden Cokro Sunaryo menambahkan nama Raden di depan nama Sudirman.
Menjalani
pendidikan formal di Taman Siswa, lalu melanjutkan pendidikan di HIK
Muhammadiyah Solo. Pada tahun 1934 Raden Sudirman yang juga aktif dalam
Organisasi Kepanduan Islam Hizbul Wathon, menjadi Kepala Sekolah Dasar
Muhammadiyah di Cilacap. Sebagai Kepala Sekolah, beliau bersikap terbuka, mau
mendengarkan pendapat orang lain serta selalu siap memberi jalan pemecahan
terhadap setiap masalah yang timbul di kalangan para guru. Selain menjadi
Kepala Sekolah, beliau juga menjadi tenaga pengajar di Sekolah Menengah
Muhammadiyah Cilacap.
Perjalanan Menjadi Seorang Jenderal
Karir militer Pak Dirman
(panggilan akrab Beliau sewaktu bergerilya) diawali ketika mengikuti latihan
perwira tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Selesai mengikuti latihan,
Pak Dirman diangkat menjadi Daidancho (Komandan Daidan setara Batlyon) di Banyumas.
Beberapa bulan setelah
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pasukan Jepang dipaksa menyerahkan
senjata kepada tentara Indonesia oleh pihak sekutu. Ketidakrelaan Jepang
menyerahkan inventaris negara, berubah menjadi baku tembak yang menelan banyak
korban dari kedua belah pihak. Tetapi beda halnya dengan Banyumas. Berkat
kearifan Pak Dirman (saat itu telah diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas
dengan pangkat Kolonel) dalam berunding, tidak ada darah yang tertumpah dalam
proses penyerahan senjata. Atas segala jasa dan prestasinya, Pak Dirman yang
dinilai teguh hati, lemah lembut tutur katanya, dan bersikap kebapakan dalam
mengayomi para bawahan, terpilih menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat
(TKR) pada tanggal 12 Nopember 1945, dan dilantik pada tanggal 18 Desember
1945, lewat pelantikan presiden.
Meski saat itu Pak Dirman
masih sangat muda, dalam usia 29 tahun beliau sudah mampu menjadi pemimpin yang
cepat mengambil keputusan, serta langsung ditindaki dengan tegas. Prestasinya
mempersatukan berbagai laskar ke dalam tubuh ketentaraan, pada tanggal 3 juni
1947, pangkat Jenderal tetap diembankan kepada Beliau setelah TKR menjadi TRI
(Tentara Republik Indonesia) sebelum akhirnya menjadi Angkatan Perang Republik
Indonesia (APRI)
Perjalanan Panglima Besar
Jenderal Sudirman untuk menempati posisi tertinggi APRI pada tanggal 3 Juni
1947 melewati banyak peperangan. Mulai dari perang kemerdekaan melawan Jepang
hingga mendesak mundur pasukan Sekutu ke Semarang pada tanggal 15 Desember 1945
dari Ambarawa (Palagan Ambarawa). Setelah menjabat Panglima Besar APRI,
Jenderal Sudirman tidak langsung berpangku tangan. Meski dalam keadaan sakit
dan harus ditandu oleh bawahannya, Beliau tetap bergerilya melawan Belanda.
Mulai dari Agresi Militer I hingga mengatur taktik perang pada Agresi Militer
II yang dilakoninya dengan berpindah-pindah. Perjalanan marathon sejauh lebih
dari 1000 km selama enam bulan itu akhirnya berakhir dengan ditandatanganinya
Perjanjian Roem Royen. Panglima Besar ini akhirnya kembali ke Yogyakarta pada
tanggal 10 Juli 1949.
Sejarah Kediaman Sang Guru
Rumah yang terletak di
Jalan Bintaran Wetan no.3 Yogyakarta, merupakan bekas kediaman Panglima Besar
Jenderal Sudirman yang sekarang menjadi Museum Sasmitaloka Panglima Besar
Jenderal Sudirman. Sasmitaloka dalam bahasa Jawa berarti tempat untuk
mengingat, mengenang. Museum ini merupakan tempat untuk mengenang pengabdian
dan pengorbanan dari Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Gedung yang dibangun pada
masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1890 ini memiliki mempunyai sejarah
yang sangat panjang. Di awal berdirinya, bangunan bersejarah ini diperuntukkan
bagi pejabat keuangan Pura Paku Alam VII, Tuan Winschenk. Pada masa penjajahan
Jepang bangunan dikosongkan dan barang-barangnya disita. Pada masa kemerdekaan
Republik Indonesia, dipakai sebagai Markas Kompi Tukul dari batalion Suharto.
Sejak tanggal 18 Desember 1945 sampai 19 Desember 1948, menjadi kediaman resmi
Jenderal Sudirman setelah menjadi Panglima Tertinggi TKR. Selanjutnya saat
Agresi Belanda II digunakan oleh Belanda sebagai Markas IVG Brigade T dan
setelah kedaulatan Republik Indonesia tanggal 27 Desember 1949, berturut-turut
digunakan sebagai kantor Komando Militer Kota Yogyakarta, kemudian dipakai
untuk asrama Resimen Infantri XIII dan penderita cacat (invalid). Tanggal 17
Juni 1968 dipakai untuk Museum Pusat Angkatan Darat, sebelum akhirnya
diresmikan sebagai Museum Sasmitaloka Panglima Besar (Pangsar) Jenderal
Sudirman pada tanggal 30 Agustus 1982.
Menjelajahi Sasmitaloka
Memasuki Museum
Sasmitaloka dari pintu utara, pengunjung akan melihat Prasasti Pangsar Jenderal
Sudirman. Sementara itu di halaman depan bangunan induk Monumen Pangsar
Jenderal Sudirman berdiri dengan gagahnya. Monumen tersebut berupa patung Pak
Dirman yang sedang menunggangi kuda dengan tulisan di keempat sisinya. Salah
satunya seperti yang tertulis di awal artikel ini. Sementara di sisi utara
monumen terdapat satu senjata mesin, dan sebuah meriam di sisi selatannya.
Bangunan induk memiliki tiga pintu di bagian
depannya dan sebuah pintu di bagian belakang yang menghubungkan dengan aula.
Bangunan induk terdiri dari enam ruangan yang saling berhubungan. Di bagian
depan merupakan ruang tamu. Di ruangan yang menjadi tempat Pangsar Jenderal
Sudirman menerima tamu-tamu resmi terdapat empat kursi satu meja, masing-masing
satu set di bagian utara dan satu set di bagian selatan. Di antara kedua ruang
tamu terdapat medali kehormatan yang diberikan kepada Pangsar Jenderal
Sudirman. Di belakangnya terdapat ruang santai. Terletak di tengah-tengah
gedung induk hanya berfungsi sebagai ruang keluarga namun juga digunakan
sebagai ruang tamu keluarga Pangsar Jenderal Sudirman. Di ruangan santai
terdapat dua set kursi serta sebuah radio kuno milik Pangsar Jenderal Sudirman.
Di sebelah utara ruang santai pengunjung bisa memasuki ruang kerja di bagian
barat yang terhubung dengan ruang tidur tamu di bagian timur. Pada ruang kerja
terdapat senjata-senjata rampasan perang serta senjata yang biasa digunakan
oleh Pangsar Jenderal Sudirman. Di ruangan ini, YogYES sempat berhenti sebentar
untuk membaca tulisan Buya Hamka tentang Jenderal Sudirman. Sementara di bagian
selatan ruang santai terdapat ruang tidur Pangsar Jenderal Sudirman yang
terhubung dengan ruang tidur putra-putri Beliau di bagian barat. Sedangkan
ruang aula yang Dipergunakan untuk ruang makan Beliau dan tempat bermain,
bercengkerama dengan putra-putri Beliau, terletak di sebelah timur ruang
santai. Rumah induk ditata serupa mungkin dengan keadaan ketika Pangsar
Jenderal Sudirman dan keluarga menempati rumah tersebut.
Di sayap utara rumah induk
terdapat bangunan dengan tiga ruangan. Ruangan terdepan merupakan ruang
sekretariat, dipakai sebagai ruangan untuk menyimpan meja kursi yang dipakai
Letkol Sudirman sewaktu pengusulan Kolonel Sudirman Komandan Divisi V
Purwokerto sebagai Panglima Tertinggi TKR. Ruang sekretariat terhubung dengan
ruang Palagan Ambarawa di bagian timur. Di ruangan ini terdapat senjata
rampasan dari Jepang yang digunakan untuk melawan sekutu di Palagan Ambarawa,
juga senjata Inggris yang direbut pada peperangan tersebut, serta diorama dari
perang Palagan Ambarawa. Di ujung timur bangunan terdapat ruang Panti Rapih.
Pada ruangan ini terlihat diorama salah Pangsar Jenderal Sudirman ketika
dirawat di salah satu ruangan Rumah Sakit Panti Rapih. Juga terdapat alat-alat
yang pernah digunakan Pangsar Jenderal Sudirman ketika dirawat.
Setelah melihat-lihat
ruang panti rapih, pengunjung bisa melihat ruang sobo dan pacitan, yang
terletak di ujung timur bangunan yang terletak di bagian sayap selatan rumah
induk. Dalam ruangan ini terdapat alat-alat sederhana yang pernah dipakai
Pangsar Jenderal Sudirman selama perang gerilya. Manunggalnya antara rakyat dan
TNI diwujudkan dalam keikhlasan rakyat memberikan harta bendanya demi
mempertahankan kemerdekaan RI. Berdampingan di sebelah barat ruang ini terdapat
ruang diorama perang gerilya. Terdapat tiga diorama yang menggambarkan
diawalinya perang gerilya dan situasi betapa sulitnya perjuangan yang harus
ditempuh Pangsar Jenderal Sudirman untuk berkoordinasi dengan pasukan yang ada
di daerah. Di ruangan ini juga terdapat tandu yang pernah dipakai Pangsar
Jenderal Sudirman ketika bergerilya. Di sebelahnya terdapat ruang pakaian.
Koleksi pakaian yang pernah dipakai Jenderal Sudirman diantaranya mantel wool
yang selalu dipakai waktu melakukan perang gerilya, terdapat di ruangan ini. Di
antara ruang diorama dan ruang pakaian terdapat sebuah lorong yang dindingnya
berisi beberapa surat yang pernah ditulis oleh Pangsar Jenderal Sudirman.
Foto-foto kegiatan Pak Dirman pada waktu sebelum perang gerilya sampai pada
saat wafatnya, serta dua stel baju dinas Pak Dirman bisa dilihat di ruang foto
dan dokumentasi yang terletak di ujung barat bangunan.
Pahlawan Besar Itu Telah Tiada
17 agustus 1949,
proklamasi diperingati di Gedung Agung Yogyakarta, setelah kepulangan
Soekarno-Hatta dari pulau Bangka pada tanggal 6 Juli 1949 dan Pangsar Jenderal
Sudirman dari perjalanan gerilya Beliau pada tanggal 10 Juli 1949.
Tanggal 27 Desember
berdasarkan Konfrensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda secara resmi menyerahkan
kedaulatan kepada Republik Indonesia. Sayangnya Pangsar Jenderal Sudirman tidak
dapat menyaksikan hasil perjuangannya lebih lanjut. Kuman tuberkulosis yang
semakin parah menggerogoti paru-paru Beliau setelah berbulan-bulan keluar masuk
hutan, akhirnya mengalahkan Panglima Besar itu. 29 Januari 1950 di Rumah
Peristirahatan Tentara Badakan, Magelang, Pangsar Jenderal Sudirman
menghembuskan nafas terakhirnya. Jasadnya kini disemayamkan di Taman Makam
Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Panglima Besar itu juga
seorang manusia biasa. Dia memiliki tempat tinggal dan keluarga yang
diayominya. Melalui gambaran visual, museum ini bercerita lebih banyak tentang
kehidupan Pangsar Jenderal Sudirman sebagai seorang suami dan ayah, serta
pemimpin tertinggi dalam kemiliteran. Seorang Jenderal yang tidak pernah
menyerah pada penjajahan, bahkan oleh penyakit yang dideritanya. Bagaikan
memasuki lorong waktu, untuk bisa membayangkan lebih dekat bagaimana Pangsar
Jenderal Sudirman menjalani hari-harinya sebagai seorang Pemimpin.
Selayang pandang
Museum merupakan sebuah wahana ilmu pengetahuan. Sejalan
dengan semangat itu, maka pendirian Museum Biologi sangat tepat sebagai sarana
wisata edukasi bagi para pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum. Museum ini
dibangun dengan mengkhususkan pada koleksi yang terkait dengan ilmu hayati
(biologi).
Adalah seorang dokter gigi, Prof. Drg. R.G. Indroyono dan
Prof. Ir. Moeso Soeryowinoto yang menggagas pendirian museum ini. Awalnya,
mereka mengelola museum masing-masing, Prof. Indroyono dengan museum
zoologicumnya dan Prof. Moeso Soeryowinoto menggawangi museum herbarium. Kedua
museum ini sama-sama berada di bawah Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta yang kala itu masih bertempat di Ndalem Mangkubumen, Ngasem,
sehingga kondang dengan sebutan Fakultas “Kompleks Ngasem”. Kemudian, mereka
mencetuskan gagasan untuk menyatukan kedua museum pribadinya ke dalam sebuah
museum baru, yakni Museum Biologi.
Pada perkembangan selanjutnya, atas prakarsa Dekan Fakultas
Biologi, Ir. Suryo Adisewoyo, bertepatan dengan Dies Natalis Fakultas Biologi
UGM pada tanggal 20 September 1969, maka diresmikanlah bangunan museum ini oleh
Rektor UGM sekaligus pemrakarsa museum ini, Prof. Drg. R.G. Indroyono, dan Drs.
Anthon Sukahar selaku ketua tim pelaksana. Museum ini mulai dibuka untuk umum
sejak tanggal 1 Januari 1970 atau sekitar 5 bulan pascaperesmian (Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi DIY, 2002: 23).
Dalam perjalanannya, keberadaan museum ini bisa dibilang
kembang-kempis. Hal ini disebabkan oleh tidak terjaganya sistem pengelolaan
yang baik di dalam museum. Selain itu, tenaga profesional yang bekerja juga
kurang memadai. Kendati demikian, keberadaan museum yang memiliki delapan ruang
pameran ini sangat berharga karena siapapun yang berminat untuk belajar ilmu
hayati atau biologi, bisa mengunjugi museum yang telah berusia hampir 40 tahun
ini.
Keistimewaan
Ketika mengunjungi Museum Biologi, wisatawan akan takjub
dengan ribuan koleksi museum ini berupa koleksi herbarium atau awetan-awetan,
baik awetan basah maupun kering, dari pelbagai fauna dan flora. Jumlah
keseluruhan koleksi di museum ini mencapai sekitar 3.700 spesies, dengan
rincian sebanyak 70% persen merupakan preparat tanaman, sedangkan 30% lainnya
berupa preparat hewan (Kompas, 08/04/09). Dengan jumlah koleksi ini,
wisatawan yang berkunjung ke museum ini dijamin tidak akan kecewa.
Sebagai museum yang mengkhususkan pada koleksi flora dan
fauna yang telah diawetkan, Museum Biologi terasa begitu menarik. Hal ini
dikarenakan museum ini merupakan museum satu-satunya di Yogyakarta, bahkan di
Indonesia yang mampu menampilkan dan memamerkan jenis koleksi semacam ini. Di
museum ini, pengunjung akan menyaksikan koleksi-koleksi museum yang dibagi ke
dalam delapan ruang pameran.
Mengunjungi museum ini dimulai dari Ruang Pameran I dan II.
Setelah melewati pintu masuk, pengunjung langsung dapat menyaksikan koleksi
museum berupa kupu-kupu dan serangga, ikan hiu, kuda laut, kerangka aves,
kerangka kambing, berbagai rupa cangkang keong, musang, dan sebagainya yang
telah dikeringkan dan diletakkan dalam rak-rak kayu berkaca. Selain itu, kita
dapat melihat etalase-etalase yang berisi terumbu karang, kerangka manusia, kerangka
simpanse, serta diorama komodo, katak, dan juga ular.
Setelah itu, wisatawan dapat melanjutkan tamasya museum ke
Ruang III dan IV. Di kedua ruang ini, kita dapat melihat ratusan Awetan Hewan
Basah dan Awetan Tumbuhan Basah pada stoples-stoples berukuran sekitar 500 ml
yang disimpan dalam rak bertingkat empat dengan pintu geser yang terbuat dari
kaca.
Setelah selesai mengelilingi empat ruangan, wisatawan bisa
langsung menuju ke Ruang Kerangka (Ruang V) yang menyajikan kerangka utuh kuda
dan gajah. Kemudian, keluar dari Ruang Kerangka, para pelancong bisa beranjak
ke Ruang Aves dan Penyu (Ruang VI dan VII) di mana dipamerkan awetan aves atau
burung yang telah dibekukan. Sedangkan pada Ruang Penyu, terdapat beberapa
awetan penyu atau kura-kura khas Indonesia dan beberapa speseis burung.
Pada ruang ekhsibisi terakhir, yakni Ruang Diorama atau Ruang
VIII, wisatawan dapat melihat kotak-kotak kayu yang terbungkus kaca berisi satu
jenis binatang atau sekelompok binatang berlatar habitat mereka yang
diilustrasikan pada gambar tiga dimensi. Ruang Diorama inilah yang menjadi
andalan Museum Biologi, karena dengan menyaksikan diorama-diorama ini
pengunjung dapat membayangkan kehidupan nyata dan habitat hewan-hewan yang
telah membeku tersebut.
BAB III
PENUTUP
Dari
bacaan diatas dapat disimpulkan bahwa Yogyakarta memiliki banyak sekali tempat
wisata yang unik dan mengagumkan, tempat-tempat bersejarah dan tempat-tempat
yang indah. Dan semua itu sangat berkaitan erat dengan pendidikan, karena
dengan mengetahui tempat-tempat wisata tersebut kita bisa tahu sejarah dan
menambah ilmu pengetahuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar